Memeluk erat luka dan kenangan
Sesuatu sekali! Benar-benar tak menyangka kalau resensi buku Hujan akan diterbitkan di Korjak. Soalnya sebelum muat, sempat mendapat teguran dari redaksi tersebut.

Dan ini link yang dimuat di KOrjak.
www.koran-jakarta.com/memeluk-erat-luka-dan-kenangan/

Judul buku : Hujan
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utana
Tahun Terbit : Januari 2016 (Cetakan I)
Dimensi : 320 halaman (20 cm)
ISBN : 978-602-03-2478-4
Mempunyai luka dan rasa sakit bagi setiap orang itu manusiawi. Tak ada yang salah. Pun ketika ada keinginan untuk menghapus semua luka yang timbul atas kenangan tak menyenangkan juga sama. Manusiawi. Semua orang pernah merasakannya. Tanpa terkecuali. Dan tak ada juga yang salah dengan kenyataan tersebut.
Buku Darwis Tere Liye kali ini mengangkat cerita berlatar masa depan dengan segala kecanggihannya sebelum akhirnya lebur dihantam bencana. Juga mengangkat tema persahabatan yang berlanjut jadi cinta yang tak tersampaikan. Lewat tokoh-tokohnya, penulis berhasil menyampaikan rasa sakit, duka, kehilangan juga kebahagiaan dan arti persahabatan dengan indah tanpa kesan menggurui. Layaknya buku-buku terdahulu milik beliau, semua terjalin begitu alami seolah benar-benar terjadi. Mengalir begitu saja.
Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal saat hujan?
Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tak bisa menghentikannya. Bagaimana bisa kita menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu hingga selesai sendirinya. (Halaman 201)
Adalah Lail, seorang gadis berusia 21 tahun yang berniat menghapus semua kenangannya tentang Esok, seorang pemuda yang pertama kali ditemuinya delapan tahun lalu saat musibah besar melanda. Pemuda yang menyelamatkannya berkali-kali, menjadi sahabatnya setelah pada hari naas tersebut dirinya resmi menjadi yatim piatu.
Setahun berlalu, setelah tinggal bersama Esok dan ibunya di pengungsian, mereka terpaksa berpisah. Esok diangkat oleh salah satu keluarga kaya yang tersisa di kota, bersama ibunya dia bergabung dengan keluarga itu. Sedangkan Lail, anak yang tak menonjol seperti Esok, hanya bisa bergabung dengan panti sosial. Di sana dia bertemu Maryam, teman yang selama tujuh tahun kemudian menjadi sahabat baiknya. Bersama Maryam, Lail berubah dari perempuan yang biasa-biasa saja menjadi perempuan yang tangguh. Mereka berdua bergabung dalam organisasi relawan yang bertugas membantu warga juga kota yang masih belum bisa bangkit pasca bencana dan menjadi terkenal berkat sebuah aksi heroik.
Bertahun-tahun setelah bencana gunung purba meletus yang dahsyat tersebut, iklim dunia belum pulih. Intervensi terhadap lapisan awan mulai dilakukan negara-negara subtropis untuk menghangatkan iklim mereka. Parahnya, setelah itu bencana berbalik arah menyerang kota-kota di kawasan tropis, salah satunya kota tempat Lail berada. Salju mulai turun, disusul musim dingin tak berujung. Hal ini membuat kesibukan Lail sebagai relawan bertambah banyak di sela-sela sekolahnya hingga mampu membuatnya sejenak melupakan Esok yang masih terus diingatnya.
Seharusnya tak ada yang salah dengan diri Lail hingga dia memutuskan hendak menghapus Esok, kecuali hatinya. Bertahun-tahun setelah peristiwa yang mengubah hidupnya, gadis itu baru menyadari kalau dia menyukai Esok. Sayangnya tak mudah. Esok jarang menghubunginya. Bertemu pun hanya sekali setahun setelah pemuda itu pindah ke ibu kota untuk sekolah. Dan lagi, di pertemuan mereka terakhir sebelum Esok jujur mengenai apa yang tengah dikerjakannya sebagai seorang ilmuan ternama di ibu kota, lelaki itu bersikap seolah dia tak memiliki rasa yang sama pada Lail. Dia lebih memilih bersama Claudia, adik angkatnya juga teman-temannya dibanding bersama Lail.
Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarkanlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh, dunia ini selalu ada misteri yang tak bisa dijelaskan. Menerima dengan baik justru membawa kedamaian. (Halaman 255)
Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang amat sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan mesin canggih sekali pun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta. (Halaman 256)
Iklim bumi makin panas berkat intervensi semua negara terhadap lapisan awan guna mengusir musim dingin. Memang berhasil, musim panas datang. Namun, tak ada yang sadar bahwa bencana lebih besar mengintai. Karena keadaan itu, Esok harus bekerja lebih keras merampungkan tugasnya untuk menyelamatkan umat manusia hingga tak punya waktu untuk diri sendiri.
Pada akhirnya, cinta Lail berbalas. Esok mencarinya setelah proyeknya rampung. Hanya saja pukulan datang untuk Esok. Ketika dia baru tiba di kota kediaman Lail, dirinya mendapat kabar dari Maryam bahwa Lail hendak menghapusnya dari ingatan.
Lewat buku ini, penulis sepertinya ingin menyampaikan betapa indah sekaligus menyakitkannya jatuh cinta. Tak ada yang salah dengan kata jatuh cinta tersebut, dia adalah suatu anugerah, hanya saja setiap yang merasakannya harus berani mengambil resiko. Entah jatuh berkali-kali, luka dan sejenisnya. Atau malah bahagia.
Penulis sepertinya juga ingin menyampaikan betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam. Eksplorasi permukaan bumi, berlanjut juga ke langit membuat bumi makin tak seimbang dan rusak. Ketika semua sudah sampai di ambang batas, tak ada yang bisa mencegah kemarahannya. Manusia takkan bisa melakukan apa pun kecuali menerima. Karena itu, manusia tak boleh serakah memanfaatkan semua yang ada di bumi kalau tak ingin hancur.
Novel ini nyaris sempurna. Hampir tak ada celah kecuali sedikit. Di salah satu bagian di mana Lail bicara pada Elijah, penghubung di pusat saraf tempat dia hendak menghapus memori, ada kesalahan penulisan latar waktu penjelasan Lail. Hanya itu saja.
Dan yang paling penting dari semua masalah ini adalah penerimaan. Mengalah pada diri sendiri. Menerima semua dengan lapang dada. Juga keharusan berpikir jauh ke depan. Manusia tak seharusnya memikirkan kepentingan sesaat hanya untuk menyesal kemudian hari.
Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tak bisa menerima, dia takkan pernah bisa melupakan. (Halaman 320).Dan ini link yang dimuat di KOrjak.
www.koran-jakarta.com/memeluk-erat-luka-dan-kenangan/
Memeluk erat luka dan kenangan
Reviewed by Aulia Maysarah
on
02.22
Rating:
Reviewed by Aulia Maysarah
on
02.22
Rating:
Tidak ada komentar: