Cinderella dan Gadis Bertudung Merah Era Dystopia


 
 
 
Kembali tak menyangka. Salah satu resensi kembali dimuat di koran jakarta beberapa waktu lalu.
Silahkan membaca ....


Gadis itu tidak tahu bahwa serigala adalah binatang yang licik. Dan gadis itu tidak takut kepadanya. (Hal. 5)
Pernah mendengar dongeng gadis bertudung merah? Atau dongeng Cinderella? Bagi yang lahir dan besar di era 90-an pasti akrab dengan dua dongeng tersebut. Tapi bagaimana jika dua dongeng yang berbeda itu di-retelling  dan dicampur jadi satu? Yang terjadi adalah perpaduan mengesankan yang tak terbayangkan. Apalagi dengan setting masa depan yang sempat lebur akibat perang dunia ke empat namun berhasil bangkit dan malah menjadi lebih maju.
Dunia setelah perang dunia ke empat adalah tempat yang dihuni manusia, android dan  cyborg. Scarlet, gadis manusia berusia 18 tahun yang lebih dari separuh hidupnya tinggal di sebuah lahan pertanian Rieux bertemu dengan seorang petarung jalanan bernama Wolf. Dua minggu sebelumnya, neneknya menghilang tanpa jejak. Kepolisian telah mengumumkan bahwa nenek Scarlet sebenarnya kabur. Tentu saja dibantah Scarlet karena dia tahu seperti apa neneknya.
Wolf, pemuda yang semula dicurigai Scarlet sebagai salah satu penculik berkat tato di lengannya akhirnya menuntun gadis itu ke Paris guna menjemput sang nenek. Namun, sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Kereta yang mereka tumpangi secara tiba-tiba menjadi tempat karantina wabah letumosis -penyakit berbahaya dari bulan-, memaksa mereka harus kabur.
Di tempat lain, Cinder yang tak lain adalah Putri Selene, pewaris sah kerajaan bulan berhasil melarikan diri dari penjara. Statusnya berubah dari mekanik ternama menjadi buron paling diinginkan di seluruh Pesemakmuran Timur berkat perintah Kaisar Kai yang dibayangi Ratu Levana. Bersama Thorne, mereka melarikan diri keluar angkasa. Mencari tahu keberadaan Michelle Benoit yang tahu perihal putri bulan yang menjadi kunci semua kekacauan.
Melalui sebuah mimpi, Scarlet mengetahui alasan kenapa neneknya menghilang. Wolf tahu perihal itu karena dia sendiri sebenarnya adalah anggota ordo kawanan yang menculik nenek Scarlet. Meski telah melarikan diri. Berkat permintaan Scarlet yang sudah menjadi lebih dekat dengannya, Wolf akhirnya membawa gadis itu ke kelompok ordo kawanan tersebut setelah sebelumnya berusaha membujuk gadis itu menggagalkan rencana.
Sayang, Wolf yang disangka Scarlet berada di pihaknya malah menyerahkannya pada para penculik. Membuatnya memberitahu semua yang diinginkan kelompok tersebut.
Berkat tekanan dari Ratu Levana, Kaisar Kai terpaksa memerintahkan pasukan terbaik untuk melacak Cinder. Ketika dia berhasil mendapatkan caranya, Ratu Levana mencuranginya dan menggunakan cara yang sama untuk menangkap Cinder. Para pesuruhnya berhasil menemukan gadis itu di Rieux, walau tak berhasil menangkapnya.
Teror pecah. Manusia setengah serigala milik kerajaan bulan menyerang bumi dan membuat kekacauan lain. Wolf yang seharusnya bergabung dengan para pengacau itu lebih memilih menyelamatkan Scarlet daripada menuruti perintah. Meski nyaris kehilangan kendali, panah Cinder berhasil membuat lelaki itu pingsan karena berpikir dia akan membunuh Scarlet.
Cinder tiba di Paris. Membasmi beberapa pengacau untuk bertemu nenek Scarlet. Sayangnya, perempuan tua itu meninggal karena terbunuh oleh anggota kawanan.
Identitas Cinder terbongkar setelah para manusia serigala dan ahli sihir ratu bulan menyerangnya. Meski hampir mati karena mencoba melarikan diri dan menutupi identitas, dia tak bisa membohongi teman-temannya karena kemampuan bulannya yang keluar. Juga karena Scarlet sudah tahu kenyataan yang sebenarnya.
Jika ini adalah kesempatan terakhir Cinder untuk memutuskan siapa dirinya, diri yang dia inginkan, maka keputusan pertama adalah keputusan yang mudah.
Dia tak akan pernah menjadi Ratu Levana. (Hal. 193)
Dia tak pernah ingin menjadi penguasa bulan. Tapi jika dia tak melakukannya, itu artinya dia membiarkan perang terjadi antara bumi dan bulan. Seperti kata teman-temannya.
Novel kedua dari seri The Lunar Chronicles karya Marissa Meyer ini benar-benar memukau. Hampir tak ada orang yang berpikir untuk menuliskan kembali dongeng anak-anak atau pun legenda setempat menjadi bacaan berkelas. Fantasi yang ditawarkan mampu membuat pembaca seolah kembali ke masa kecil, meskipun sebenarnya novel ini berlatar belakang masa depan.
Di balik semua itu, penulis tampak sekali ingin menekankan betapa buruknya sifat tamak. Apalagi jika dimiliki seorang penguasa. Bukannya kenyaman yang diperoleh, malah sebaliknya. Kesengsaraan, kebencian dan pemberontakan. Di buku sebelumnya, diceritakan bagaimana cara Ratu Levana mendapatkan tahtanya dengan membunuhi semua ahli waris, hal yang sangat tak bisa ditolerir apalagi ditiru walaupun diri kita bukan pemimpin.
Satu lagi pesan tersirat yang diberikan novel ini. Kebanyakan dari kita melupakan jati diri kita. Dongeng Cinderella dan Gadis Bertudung Merah yang menjadi legenda masyarakat Eropa mampu dikembangkan hingga banyak orang mengenalnya. Begitulah seharusnya kita menghargai produk negeri sendiri. Seperti dongeng-dongeng lokal, kebudayaan atau ciri khas bangsa kita yang seharusnya dikembangkan bukan malah dihilangkan.
Cinderella dan Gadis Bertudung Merah Era Dystopia Cinderella dan Gadis Bertudung Merah Era Dystopia Reviewed by Aulia Maysarah on 01.42 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.