Review Buku Corat-Coret di Toilet



Wow! Senang sekali begitu melihat banner sejenis lomba buat ngereview buku di iJak. Pasalnya, selain hadiahnya lumayan, keseharian yang memang sering bersentuhan dengan yang namanya membaca buku membuat saya seolah terpanggil. Apalagi, selama ini saya sering menggunakan iJak sebagai perpustakaan saya. 

Ada banyak buku di sini. Dengan segala genre yang pasti sering membuat kalap hingga kadang meminjam lebih dari satu dalam sehari. Bagi yang punya budget terbatas, iJak rekomen deh! Bagus! Ada beberapa buku yang lumayan baru juga.

Mungkin sekedar saran aja, sih! Kalau bisa semua penerbit besar donk bukunya tersedia di iJak. Kan sekarang belum semua. 

Makasih buat iJak. Makasih juga buat Gramedia buat event ini juga buat buku-bukunya yang berkualitas.

Yup! Silahkan untuk reviewnya!



Judul Buku                    : Corat-coret di Toilet
Pengarang                      : Eka Kurniawan
Penerbit                         : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                  : April 2014
ISBN                             : 978-602-03-0384-4

“Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan. Toilet bukan tempat menampung unek-unek. Salurkan saja aspirasi anda lewat bapak-bapak anggota dewan. (Hlm. 29)
Kalimat di atas adalah salah satu coretan di dinding toilet dalam cerpen yang punya judul sama dengan bukunya. Corat-Coret di Dinding Toilet. Tampaknya itu hanya kalimat komentar biasa saja. Tapi, siapa sangka, tulisan itu pada akhirnya mendapat banyak tanggapan hingga memenuhi dindingnya. Hal seperti ini seolah jadi cermin. Kebanyakan orang pada masa ini, mampu berkomentar panjang tapi seringkali tak mampu memenuhinya sendiri. Juga suka memancing emosi yang lain.
Corat-coret di toilet, berisi 12 cerpen karya Eka Kurniawan yang pernah dimuat di berbagai media cetak. Di antara 12 cerpen itu, nyaris semua mengangkat tema yang berbeda. Ada tema yang menyinggung soal politik, kisah cinta, atau sosial. Ada yang berlatar belakang modern seperti cerpen Corat-coret di Toilet atau Kandang Babi, ada juga yang mengambil latar saat zaman sebelum merdeka. Meski begitu, setiap cerpen punya gaya cerita khas Eka Kurniawan. Baku tapi luwes. Mudah dimengerti. Dan punya ending yang sering mengejutkan.
Cerpen Rayuan Dusta untuk Marieje misalnya, berlatar masa penjajahan Belanda dengan tokoh seorang prajurit bayaran yang ingin sekali mendatangkan kekasihnya ke Batavia. Awalnya itu tampak mustahil. Namun, setelah Terusan Suez dibangun, kekasihnya datang. Tapi, apa yang didapat sang kekasih? Cuma rayuan bohong saja.
Atau cerpen lain, Kandang Babi. Bercerita soal mahasiswa abadi yang terusir dari tempat tinggalnya di salah satu sudut kampus. Setelah sempat luntang-lantung, akhirnya dia bertemu dengan seorang teman lama yang memberinya uang untuk mencari tempat tinggal yang layak. Pada kenyataannya, dia tak melakukan itu.
Sifat setiap orang memang tak bisa ditebak. Tak bisa ditentukan bila dihadapkan dengan suatu masalah. Tapi, satu hal yang bisa diambil dari semua cerpen ini adalah sejelek-jeleknya sifat setiap individu, itu adalah sifat individu itu sendiri. Jika memang ingin berubah ke arah yang lebih baik, harus dari pribadi. Bukan lewat orang lain. Apalagi dipaksa. Dan jelas itu tergantung oleh niat.
Jika ia punya pondokan, ia tak boleh lagi berteriak sesuka hati di tengah malam. Juga pasti dilarang mabuk. Lebih mengerikan kalau ada aturan harus pulang jam sembilan. Ngomong-ngomong, dia juga ragu dan ngeri memikirkan harus punya rumah pondokan. (Hlm. 120)
Review Buku Corat-Coret di Toilet Review Buku Corat-Coret di Toilet Reviewed by Aulia Maysarah on 08.41 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.