Kopi, Cream dan Cokelat



Blog Post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory
Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Kopi adalah kopi.
Cokelat adalah cokelat.
Keduanya merupakan dua hal yang berbeda dan saling bertolak belakang. Tapi, meski begitu, bukan berarti mereka tak bisa disatukan, kan?
*

Hasil gambar untuk gambar coffe shop 
Aku benci kopi!
Aku merutuk dalam hati sambil melafalkan kata yang sama dalam diam. Aku benci kopi. Dan lebih benci lagi harus berada di tempat ini sendiri dengan aroma pahit yang menguar dari segala penjuru. Aku benci!
Bukan tanpa alasan aku tak menyukai hal satu ini. Kopi, segala hal yang berhubungan dengannya, entah itu rasa, aroma bahkan bentuknya saja mampu melemparku ke masa yang ingin kukubur. Aku benci rasa pahit kopi karena mengingatkanku pada pria yang seharusnya kupanggil ayah tapi tak pernah pantas untuk itu. Aku benci aromanya juga karena mengingatkanku pada seberapa banyak luka yang diderita ibu dari pria tersebut. Pokoknya aku benci ....
"Rin,"
Aku menengadah. Mendapati satu-satunya orang yang berhasil membuatku masuk Coffe Shop ini berada di depanku. Dia tersenyum, menyodorkan sepiring kue cokelat yang kusuka. Untunglah, sepertinya dia mengerti aku takkan pernah mencicipi apapun yang terbuat dari kopi lagi hingga memberiku sesuatu yang lebih manis. Yang aku tak mengerti, kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini padahal tahu aku tak suka?
"Mau ngomong apa?" Aku menyambar langsung sebelum dia bangkit lagi dari hadapanku. Dia balas menatap, tersenyum manis khasnya yang membuatku sering tak bisa menolak apapun yang dia minta.
"Sebentar, ya. Makanlah dulu," pintanya. "Ada sedikit hal yang harus kuurus lagi. Kau tak apa kan kalau kutinggal sebentar? Lima menit?" Dia menambahkan sembari menunjukkan lima jarinya padaku. Aku menghela napas, mengangguk.
"Lima menit."
Ketika kudapati dia pergi lagi ke belakang meja bartender di tempat ini, perasaan tak nyamanku kembali menyeruak dengan besarnya. Bau pahit kopi di seluruh ruangan ini benar-benar membuatku kembali ke masa-masa yang tak menyenangkan itu.
Demi mengusir rasa tak nyaman, aku mencomot kue cokelat yang dibawa Frans, lelaki tadi, sedikit. Rasa manis khas cokelat dan baunya yang lembut memenuhi inderaku dengan pekat. Aku tersenyum, setidaknya sekarang aku punya alibi untuk tetap berada di sini selain karena Frans. Kue cokelatnya enak. Sangat enak. Dan aku memang sangat suka apapun yang terbuat dari cokelat karena mampu menenangkan. Masalah apapun yang kuhadapi, jika mengunyah makanan satu ini, rasanya jadi jauh lebih tenang.
"Enak?"
Aku mengangguk. Sekali lagi mendapati Frans berdiri di depanku. Dia bertanya penuh antusias.
"Enak. Kau yang memasaknya?" tanyaku. Aku sadar betul, siapa lelaki di depanku ini. Frans Alitya Saputra. Pemilik setidaknya enam Coffe Shop di Bandung. Tempat yang sekarang kami duduki adalah salah satu kedai miliknya yang paling terkenal di kalangan kaula muda. Lelaki yang sangat menyenangi apapun jenis kopi, makanan atau minuman yang terbuat dari benda yang tak kusukai itu.
Ya, memang. Kami sangat bertolak belakang. Aku membenci kopi sedangkan dia begitu memujanya. Sejujurnya, dulu aku tak pernah berharap hubungan kami bisa seperti ini dengan keadaan kami masing-masing. Aku tak sanggup membayangkan bersama lelaki yang bahkan sehari saja tak bisa meninggalkan kopi padahal aku tak ingin mengingatnya selamanya. Aku tak pernah berharap bisa dekat, lalu pacaran dan sudah berjalan lebih dari satu tahun dengan keadaan ini.
Tapi kami berhasil. Setidaknya sampai hari ini. Sampai ketika dia memintaku ke Coffe Shop miliknya untuk membicarakan sesuatu. Hal yang hampir membuat aku marah besar. Tapi dia terus membujuk hingga akhirnya aku berada di sini.
"Iya. Aku yang buat," ucapnya sembari duduk di depanku sedang aku kembali mencomot satu potong kue lagi.
"Kau memang hebat. Aku tak yakin bisa buat yang beginian."
"Kau bisa kalau kau mau." Dia menimpali.
Seorang pelayan kafe datang ke meja kami, menaruh dua cangkir berisi kopi yang masih mengeluarkan uap panas. Bau kopi yang menguar dari cangkir-cangkir itu membuatku agak terkejut. Kilatan-kilatan masa lalu lagi-lagi datang seenaknya.
"Kau mau minum dua cangkir sekaligus?" tanyaku cepat membuang ingatan. Aku tak ingin terlihat sebagai seorang perempuan cengeng di depannya.
Frans menggeleng. Mengangsurkan satu cangkir padaku.
"Untukmu satunya." Dia tersenyum lalu menghirup kopi dari cangkir di tangannya.
"Kau kan tahu aku tak minum kopi," ungkapku. Lebih pada penjelasan.
"Aku tahu." Dia mengangguk. "Tapi yang di depanmu itu bukan kopi. Setidaknya bukan kopi murni seperti punyaku," tambahnya lagi sembari menunjukkan cangkirnya.

Hasil gambar untuk gambar moccacino
Aku menggeleng.
"Aku tak minum." Mood-ku memburuk. Aku sudah punya firasat akan hal ini sebelumnya. Tapi, karena dia aku akhirnya mau ke sini. Harusnya tadi aku tidak mengiyakan.
"Sedikit saja. Setelah itu kau boleh memutuskan."
"Memutuskan? Memutuskan apa?" Aku melihat padanya cepat. Dia menatapku tajam.
"Memutuskan apakah kau masih harus membenci kopi layaknya dia adalah hal yang membuatmu terluka padahal itu hanyalah sesuatu yang sangat disukai orang yang membuatmu terluka. Atau memilih berbalik. Menerimanya layaknya kau menerima cokelat?"
"Kau becanda?" Aku menatapnya meminta penjelasan. Tapi semuanya jelas. Sejelas ucapannya. Tak ada sedikitpun tanda-tanda dia sedang bercanda. "Aku tak minum."
Dia menatapku dalam diam. Tatapan yang entah kenapa terasa sedingin es. Dia tak pernah menatapku seperti ini sebelumnya. Tak pernah. Dan itu membuatku takut.
"Baiklah." Aku mendesah. Merutuk setengah mati akan keputusanku. "Hanya sedikit. Setelah itu aku pergi."
Aku mengambil cangkir kopi bagianku lalu mengangkatnya ke mulut. Senyum Frans mengembang, seperti senyum yang biasa dilakukannya. Aku mendesah sekali lagi. Menahan napas mencium bau kopi yang begitu kentara.
Rasa pahitnya ... rasa manisnya ... begitu lumer di mulut begitu kopi itu masuk ke mulut. Aku mendongak. Menatap Frans yang masih terus tersenyum di depanku.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Ini apa?" Tanpa sadar kembali aku menyeduh kopiku. Rasanya pahit. Tapi juga manis. Manis yang begitu kukenali berasal dari cokelat.
"Moccacino. Campuran antara kopi yang kusuka, cokelat yang kausuka, dan cream yang menetralisir rasa. Enak, kan?" Dia tetap tersenyum menatapku.
Sekali lagi kusesap kopi di tanganku. Rasanya memang berbeda. Tak sama dengan kopi yang telah menghancurkan harapanku juga hidup ibuku. Kopi yang disuka pria itu sangat pahit. Terlalu pahit hingga ke aroma. Berbeda dengan kopi ini yang memang terasa lebih lembut. Dan yang paling penting, perasaanku juga tenang. Tak gelisah seperti setiap kali berhadapan dengan kopi.
Aku mengangguk. Mengiyakan. "Ini enak. Benar-benar enak."
Frans lagi-lagi tersenyum, menggenggam tanganku tiba-tiba.
"Jadi, bagaimana?" tanyanya dengan nada serius.
"Apanya?"
"Keputusanmu." Aku mengerjitkan dahi mengingat apa yang dia maksudkan. "Kau mau tetap membenci kopi, atau menerimanya?"
Sekarang aku ingat apa yang dia maksudkan. Pertanyaannya sebelum ini.
"Entahlah. Aku masih belum yakin. Semua yang terjadi di masa lalu tak bisa dilupakan begitu saja, kan?" Aku balik bertanya dan dia menjawab dengan menggeleng.
"Seperti moccacino ini, apakah kopi kehilangan aroma khasnya?" Aku menggeleng.
"Apakah cokelat juga kehilangan aroma dan rasanya?" Sekali lagi aku menggeleng menjawab pertanyaannya.
"Tak ada yang pernah hilang di antara dua hal itu, Key. Cokelat tetap cokelat. Kopi tetap kopi. Mereka tetap berada pada sisi masing-masing. Lalu cream datang, menyatukan mereka. Kenangan burukmu, kenangan baikmu, keduanya merupakan hal yang berbeda. Tapi keduanya bertumpu pada satu titik. Kau. Kau adalah cream untuk kenangan buruk dan baikmu." Aku terdiam mendengar ucapannya yang begitu panjang. Begitu benar.
Kurasa selama ini aku memang salah. Aku terlalu mengotak-kotakkan pikiranku. Memilah yang baik, tak mengakui yang buruk.
"Kurasa kau benar, aku memang salah." Aku berucap setelah sekian lama terdiam. "Kurasa aku bisa menerimanya mulai sekarang. Meski harus perlahan."
Lalu, tanpa komando Frans bersorai. Aku mengerutkan dahi tak mengerti.
"Kenapa?"
"Kau menerimaku," ucapnya gembira.
"Apa?"
"Aku kopi dan kau cokelat. Kau harus ingat dua hal yang sama-sama kita suka."
Dia kembali tertawa dan aku masih tak mengerti.
***
Kopi, Cream dan Cokelat Kopi, Cream dan Cokelat Reviewed by Aulia Maysarah on 06.09 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.