Laki-Laki Dengan Secangkir Teh di Tangan


“Mau teh, Nduk?” 

Kupalingkan mataku pada pemilik suara itu. Lagi-lagi dia. Laki-laki tua yang baru pindah di samping rumahku beberapa minggu yang lalu. Dia berdiri menghadap rumahku, lebih tepatnya ke arahku yang sedang memasang tali sepatu. Di tangannya ada sepoci teh yang masih mengeluarkan uap panas yang bergerak –aku melihatnya karena poci itu tak tertutup- dan sebuah cangkir di tangannya yang lain.

Ndak Pak, silahkan,” jawabku santun.

Bukan sekali dua kali sebenarnya dia menawarkanku teh, tapi tiap hari saat aku baru keluar rumah entah itu ketika hendak ke kampus ataupun duduk santai saja di teras. Laki-laki tua itu tinggal sendiri disana, hanya ditemani seekor kucing jalanan berwarna putih kuning.

“Sudah mau berangkat kuliah?” Ia kembali bertanya. Aku kembali memutar pandangan kepadanya dengan tangan yang berpindah mengikat tali sepatuku yang sebelah kiri. Kulihat ia menyunggingkan senyum lebar ke arahku, dan aku juga membalasnya dengan senyum sembari mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Saya duluan, Pak,” pamitku lagi-lagi mengangguk padanya.

Aku tak tahu terlalu banyak tentang laki-laki itu. Aku hanya tahu dia tinggal sendiri, seperti yang kukatakan tadi. Rambutnya sudah memutih, namun dibiarkan panjang dan diikat ke belakang. Dia selalu bersikap ramah dan hangat terhadapku, entahlah aku tak tahu apakah ke orang lain juga sama. Aku tak tahu karena aku memang jarang di rumah setelah aku menginjakkan kaki di bangku universitas, tapi kurasa ia juga begitu ke orang lain. Meski begitu, aku tak pernah betah bicara banyak kepadanya, paling lama lima menit.

Bus kota yang membawaku ke kampus penuh sesak, maklum, sekarang memang jam kerja. Bosan dengan keadaan yang sama setiap pagi, kutarik ponselku dari dalam tas, ada satu pesan.

Kalau bisa pulanglah cepat hari ini. Kau ingat? Hari ini ulang tahun ayahmu. Kita rayakan bersama di rumah.

Aku tersenyum kecut. Pesan dari Ibu. Bukan. Bukan aku tak suka dengan pesannya. Aku hanya tak suka dengan sikapnya yang selalu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Ulang tahunlah, hari peringatan aku bisa berjalan sendirilah atau hal-hal kecil lainnya yang memang membuat risih.

Pernah suatu hari ibuku mengundang teman satu kompleks ke rumah hanya untuk merayakan hari pertama aku memakai seragam putih merah. Konyol kan? Untuk apa coba?

Ayah lagi. Tak jauh berbeda dengan ibu. Dia selalu membelikan hadiah-hadiah kecil seperti jepit rambut atau boneka-boneka kecil yang kurasa aku tak perlu. Bahkan sampai saat ini setiap awal bulan dia masih membelikanku boneka. Aku bukan anak kecil lagi!

Kalau biasanya teman-temanku suka dengan hal seperti itu, aku tidak. Itu terlalu kekanak-kanakan, atau kelewat lebay. Aku tak suka. Mereka tak pernah membiarkanku pergi dari rumah tanpa izin. Bahkan waktu aku mengajukan diri untuk ngekost saja supaya lebih dekat dengan kampuspun mereka tak mengizinkan.  Aku tahu aku anak mereka satu-satunya, tapi tak bisakan mereka membiarkanku sedikit bebas? Seperti teman-temanku misalnya?

Kukembalikan ponselku ke dalam tas lagi ketika seorang kenek mendekat dan meminta bayaran, selang beberapa saat kemudian busnya berhenti di halte terdekat dengan kampusku, dan kehidupan di luar rumah yang mengasikkanpun dimulai.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika aku keluar dari sebuah apartemen mewah di bilangan Jakarta Pusat ini. Kulambaikan tangan pada dua temanku yang berdiri di lobi, berat rasanya meninggalkan mereka bercengkrama ria dan melakukan hal menarik lain berdua. Tapi aku sudah harus pulang. Sekarang sudah jam sembilan malam, ayah pasti sudah menungguku di depan pintu rumah seperti biasa setiap kali aku pulang terlambat.

Sembari berjalan menuju halte terdekat, kubuka ponselku. God! Ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dan hampir dua kali lipatnya pesan singkat yang menanyai kapan aku pulang. Menyebalkan.

“Darimana saja kau?” suara dingin ayah menyambut ketika kubuka pintu rumah. Aku menghela napas kesal. Sial! Padahal aku sudah berusaha seperlan mungkin.

“Dari kampus yah,” jawabku sekenanya tanpa menoleh padanya.

“Kau mau membohongi ayah? Ada kelas apa memangnya yang mengharuskan mahasiswinya pulang jam sebelas malam?!” geram ayah. Aku terkesiap, mundur dari tempatku berdiri. Benar kata ayah, sekarang sudah pukul sebelas malam. Meski tadi aku keluar apartemen temanku jam sembilan, nyatanya aku malah mampir terlebih dulu ke warung internet hingga pukul sepuluh. Untunglah masih ada angkot yang mangkal dan kutemui tadi hingga aku masih bisa pulang. Kalau tidak, mungkin aku baru akan besok pagi. Tapi kenapa ayah harus marah seperti itu, bukankah hal biasa kalau remaja pulang lewat dari jam sepuluh malam? Toh aku juga pulang dengan selamat kan?

“Kenapa diam?” tanya ayah lagi yang masih tak kujawab meski aku memasang wajah cemberut, “Kau lupa hari ini hari apa? Ibumu sudah menyiapkannya dan kau merusak harapan ibumu.”

“Aku lupa,” ucapku.

“Ayah tahu kau Ay, tapi kenapa ponselmu juga tak aktif?”

“Baterenya habis yah,” alasanku lagi, padahal aku tahu persis kalau ponselku masih tahan setidaknya sampai besok pagi.

Ayah menghela napas berat, “Temui ibumu. Dia belum tidur, minta maaflah padanya,” ucap ayahku pelan. Ya, dia selalu begitu. Meski awalnya dia terlihat marah, dia tak pernah benar-benar marah.

“Kutemui ibu besok yah, aku janji. Aku capek,” jawabku sembari ambil langkah naik ke lantai dua.
*

“Mau teh, Nduk?

Aku menoleh pada laki-laki tua yang masih berpenampilan seperti kemarin, juga dengan poci dan cangkir di tangannya. Balik aku menoleh ke dalam rumah, di ruang tamu ada ayah dan ibu yang duduk berhadapan dalam hening. Aku sudah minta maaf pada ibu, tapi rupanya itu tak cukup. Dia masih murung dan sekarang ayah malah ikut-ikutan. Aku benci keadaan ini.

“Nduk?” tanya laki-laki tua itu lagi.

Entah apa yang ada di pikiranku pagi ini, aku mengangguk padanya. Dengan sekali gerakan kuseberangi pagar yang tak kelewat tinggi yang memisahkan rumahku dengan rumah laki-laki tua itu. Ia tersenyum, lalu kembali masuk ke rumahnya untuk mengambil satu cangkir lagi.

Seperti yang kukatakan, laki-laki ini selalu hangat. Meski aku hanya menanggapinya dengan menggangguk saja, dia terus bercerita tentang hidupnya. Tentang masa kejayaannya waktu menjadi prajurit TNI di perbatasan Indonesia dan Malaysia, juga tentang keluarganya. Dia juag bercerita bagaimana indahnya menghabiskan pagi dan sore bersama keluarganya sambil minum teh di teras dan memandangi putrinya bermain di halaman rumah mereka terdahulu yang ditumbuhi pohon jambu. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar, aku melihat keredupan dari matanya saat menceritakan keluarganya. Ya, keluarganya yang menjadi korban ketika ia bersikukuh menjalankan kewajibannya, keluarganya meninggal, terbunuh.

“Itu photo Layla, putri Bapak. Dia pasti sudah seusiamu kalau dia masih hidup sekarang,” ucapnya dalam tatkala aku meraih sebuah pigura dari balik lemari kecil di ruang tamunya pagi itu. Aku menenguk ludah. Ngilu.
*

“Ayla, kamu kenapa?”

Itu kalimat pertama yang ibu ucapkan ketika ia mendapati aku yang baru masuk rumah segera memeluknya.

“Ibu, Ayla minta maaf. Ayla ngaku kalau tadi malam Ayla sengaja nggak ngangkat telpon sama balas sms Ibu. Ayla pergi sama teman-teman Bu,” ucapku segera.

Ibu, dengan lembutnya mengelus kepalaku dan mengangkat wajahku dari dalam pelukannya.

“Ibu tahu, Nak. Ibu tahu. Kau tahukan Ibu selalu tahu apa yang kau sembunyikan kan?” tanya Ibu dengan senyum mengulas di bibirnya. “Ibu hanya tak ingin kau jatuh ke pergaulan yang salah makanya Ibu selalu bertindak seperti ini. Ibu tahu kau tak suka, harusnya Ibu yang minta maaf,” tambahnya membuatku kembali menjatuhkan diri ke pelukannya.

“Tapi, kenapa kau bisa seperti ini?” tanyanya lagi.

“Ayla baru pulang dari rumah Pak Saman, tetangga kita yang baru. Ayla sadar, apa yang Ibu lakukan sekarang karena Ibu mau melindungi Ayla. Ayla gak mau kalau akhirnya kita terpisah seperti Pak Saman dan keluarganya,” jawabku dengan air yang menetes di pipi.

Sebuah titik air lain jatuh di pundakku, bukan airmataku. Airmata Ibu. Dia mendekapku jauh lebih erat, jauh lebih hangat. Sebuah tangan lain ikut memelukku dari belakang, Ayah.

Aku sayang kalian. Aku juga sayang padamu, Pak Saman, bisikku tatkala melihat raut wajah cerahnya dari balik jendela ruang tengah rumahku yang langsung berhadapan dengan jendelanya. Aku tahu, tadi pagi dia pasti melihat sedikit adu mulut di antara aku dan Ayah lewat jendela itu.
*

Laki-Laki Dengan Secangkir Teh di Tangan Laki-Laki Dengan Secangkir Teh di Tangan Reviewed by Aulia Maysarah on 01.48 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.