Semua Berakhir di Sini

Ini adalah Flash Fiction yang pernah diikutkan dalam lomba novel terpendek di laman Novel.id.
Sayangnya, naskah ini belum beruntung ketika itu.
Dari pada mendep aja, mending diposting aja. :)


***


Kerumunan orang-orang di taman itu makin membesar, padahal sejak tadi para polisi sibuk meminta mereka menyingkir. Police line membentang sepanjang tempat kejadian perkara sementara petugas mengindentifikasi.
Seorang laki-laki mendekat, bertanya pada dokter forensik.

"Bagaimana?"

"Korban bernama Rahmad Afif, Pak! Seorang arkeolog. Ditemukan meninggal pagi ini dalam keadaan luka menganga di leher dan lidah yang ditarik keluar dari luka yang sama. Kami belum bisa mengidentifikasi lengkap, harus dioptosi dulu," jelas petugas itu panjang lebar. Sementara petugas lain kini mengancing kantung jenazah korban.

"Dasi Kolombia."

Petugas itu memandang penuh tanya.

"Biasanya digunakan sebagai tanda bahwa korban terlalu banyak omong dan suka ikut campur," jelasnya sambil melihat pada bawahannya. "Cara pembunuhan ini sangat kejam karena biasanya korban masih hidup saat digorok. Cari informasi lebih soal korban." Petugas itu mengangguk begitu atasannya bangkit.

Saat mata si atasan mengarah ke kerumunan, pandangannya berhenti pada seorang gadis yang menatap dingin padanya. Sejurus kemudian gadis itu mengangguk, bersamaan dengan ponselnya yang berdering.

"Done! Tugasku selesai. Anda aman."

Laki-laki tersebut kembali memandang si gadis, mengangguk sebelum pergi.

END


NB. Dasi Kolombia adalah salah satu metode eksekusi terkejam di dunia.
Semua Berakhir di Sini Semua Berakhir di Sini Reviewed by Aulia Maysarah on 01.05 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.