Samudra
Seperti
inilah rasanya dicampakkan. Kau berdiri di pojokan jalan, diabaikan seperti
kulit pisang yang dibuang sembarang. Orang-orang berlalu –lalang di sekitarmu
tanpa menyadari kau betul-betul ada. Tanpa tahu kau sungguh-sungguh nyata. Tak
ada yang benar-benar peduli pada apapun penderitaannmu. Atau tumpahan airmata.
Kau sudah berupaya memantaskan diri. Mendinginkan kepala. Melapangkan hati.
Menarik ujung-ujung bibir. Tapi tak ada satu pun yang terjadi padamu. Kecuali,
kau kebasahan di dalam hujan.
Dulu
aku pikir aku takkan pernah dicampakkan.
Ya.
Dulu.
Tetapi
segala sesuatu selalu berbeda dari waktu ke waktu. Dan kali ini, hal yang tak
pernah kubayangkan akan terjadi, akhirnya terjadi.
Aku
menatap langit. Ini hujan atau air mata? Bukankah tadi langitnya biru? Aku
ingin tahu mengapa kini begitu gulita.
***
Aku
mengenalnya satu tahun lalu. Memang belum terlalu lama. Tapi sebenarnya dalam
satu hal itu dia benar-benar mampu mengubahku.
Samudra.
Namanya
Samudra. Nama yang agak aneh memang. Namun jika kau melihat seperti apa dia,
bagaimana dia sebenarnya kau pasti mengakui nama itu pantas disandangnya.
Mata
bening lagi teduh, tinggi dengan kulit sawo matang. Senyumnya, tawanya, semua
benar-benar menggambarkan sebuah samudra yang nyaman.
Dia
laki-laki yang kutemui di sebuah kafe secara tak sengaja. Aku sedang
pusing-pusingnya melihat pekerjaanku yang tak kunjung selesai ketika dia datang
dan mengajakku bicara.
"Boleh
aku duduk di sini?"
Aku
ingat mendongakkan kepala waktu itu. Memandang dengan tatapan penuh tanya.
"Tempat
yang lain sudah penuh," ucapnya lagi.
Aku
melengos, memutar pandangan ke seisi kafe yang memang penuh sebelum berkata
silahkan. Setelah itu, aku kembali ke pekerjaanku sembari sesekali meneguk
kopi.
"Kau
tak bosan setiap hari berkutat dengan yang begini?"
Mengangkat
kepala, aku menemukannya tengah memperhatikanku.
"Ini
pekerjaanku dan aku menyukainya."
"Kau
pasti bohong," ucapnya lagi sambil menyeduh kopinya.
Aku
mendesis. Menggetutu dalam hati. Bisakah dia diam dan membiarkanku bekerja dengan
tenang? Toh aku sudah memberinya tumpangan kursi hari ini.
"Kau
tak perlu tahu aku bohong atau tidak."
Itu
adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulutku sore tersebut. Aku memilih berkutat dengan pekerjaanku dan membiarkannya yang kadang masih bicara sedikit-sedikit.
"Kau
masih saja berkutat dengan ini?" Dia lagi-lagi menunjuk pekerjaanku di
pertemuan kedua kami di kafe yang sama. Kami juga masih berada di meja yang
sama. Lagi-lagi saling berbagi karena kafe kembali penuh.
"Memangnya
kenapa? Sudah kubilang, kan? Ini pekerjaanku dan aku menyukainya?" Aku
ngotot kali ini, tak membiarkannya cerewet lagi. Mataku tepat mengarah pada wajahnya yang kini tersenyum
simpul.
"Dan
sudah kubilang juga, kan kalau kau itu berbohong? Kau terpaksa mengerjakan
semua ini demi tuntutan. Padahal sebenarnya kau bosan. Dan kalau boleh memilih,
kau juga pasti ingin berdiam di rumah saja. Menikmati novel-novel koleksimu
sambil ditemani musik kesukaan. Apa aku benar?" Senyum lagi-lagi menghiasi bibirnya.
Shit!
Kenapa dia bisa menebak dengan benar?
"Begitu?
Oke, anggap saja kau benar. Darimana kau tahu kalau aku seperti itu?"
tantangku.
Setelah meminum kopinya terlebih dulu, dia lagi-lagi tersenyum lebar seolah menang. Dia berhasil mengajakku berbicara.
"Mudah saja. Aku bisa melihatnya dari ekpresimu." Dan aku mati kutu. Hanya bisa menatapnya dan membenarkan semua ucapannya. "Aku benar, kan?"
Aku menelan ludah.
"Mudah saja. Aku bisa melihatnya dari ekpresimu." Dan aku mati kutu. Hanya bisa menatapnya dan membenarkan semua ucapannya. "Aku benar, kan?"
Aku menelan ludah.
"Jangan
tatap aku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta."
Aku
terbatuk dan dia tertawa.
"Aku
bercanda," ucapnya kemudian bangkit. "Aku duluan. Ada yang harus
kukerjakan." Dia menambahkan.
Baru
beberapa langkah dia menjauh, laki-laki itu berbalik memanggilku.
"Ryani?"
Aku
menoleh.
"Kau
mau jadi pacarku, tidak?"
Aku melongo. Tak tahu harus menjawab apa.
Nyatanya,
dua minggu kemudian kami malah sibuk mencoba hal-hal baru berdua. Jalan-jalan,
mendatangi tempat-tempat baru yang belum pernah kami kunjungi atau sekedar santai
di kafe yang sama namun dengan tempat duduk yang berubah-ubah. Semuanya terasa
benar-benar menyenangkan. Berbanding terbalik dengan duniaku yang selama ini
memang membosankan seperti yang dia katakan.
Aku
tak terlalu berkutat lagi dengan pekerjaanku. Aku malah banyak memanfaatkan
waktu dengan hal lain seperti belajar memasak atau apa. Aku juga jadi lebih
bersemangat nyaris dalam semua hal yang bahkan kubenci sekali pun. Semuanya
benar-benar berbeda dan kali ini aku jujur aku menyukainya.
Setidaknya
itu semua berjalan dengan baik sebelum hari ini. Sebelum seseorang dari masa
lalunya datang. Memintanya memulai semua dari awal.
Aku berencana
mampir ke rumahnya setelah pulang kerja. Membawakan makanan buatanku sendiri dengan
bangganya. Aku benar-benar tak mengira ini akan terjadi padaku. Sungguh.
Perempuan itu datang hanya beberapa menit sebelumku. Berbicara pada Samudra
yang menunjukkan wajah setengah pucat setengah bahagia.
Meski
aku hanya berdiri di luar taman rumah, aku bisa menebak dengan pasti apa yang
mereka bicarakan. Aku bisa melihat dengan pasti bagaimana perempuan itu
menangis dan memeluknya.
Aku
cemburu. Pasti. Apalagi saat melihat Samudra membalas pelukannya.
Aku
sudah bersiap masuk saat mataku secara tak sengaja menangkap wajah perempuan
tersebut. Dan aku hampir jatuh setelahnya.
Aku
tak tahu, bagaimana mungkin laki-laki yang dicintai kakakku adalah Samudra. Bagaimana
bisa kami mencintai orang yang sama. Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan di
antara mereka? Aku tahu persis, mereka sudah bersama sejak di bangku sekolah.
Kakakku meninggalkannya ke luar negeri untuk mengejar cita-citanya namun mereka
masih terus kontak.
Kemarin
dia kembali. Dia bilang, akan menjemput cintanya.
Dan
aku tahu, aku telah kalah.
***
Menurutmu,
bagaimanakah rasanya dicampakkan? Atau haruskah aku mengganti pertanyaan dengan
bagaimana rasanya masuk ke hubungan orang lain? Terlebih itu adalah kakakmu
sendiri? Rasanya sakit. Sungguh. Aku tak berbohong kali ini.
Aku menatap
langit. Ini hujan atau air mata? Bukankah tadi langitnya biru? Aku ingin tahu mengapa
kini begitu gulita.
Samudra
Reviewed by Aulia Maysarah
on
23.53
Rating:
Reviewed by Aulia Maysarah
on
23.53
Rating:


Tidak ada komentar: